1. RASA BIMBANG
Berlindunglah kamu dari kebimbangan
Sikap jiwa tak menentu
Bagaikan asap yang dipermainkan angin
Hanya berdesah halus
Tetapi membuatmu menari-nari
Berlenggak lenggok
Semakin tipis wujudmu
Kemudian hilang
Tanpa diperhitungkan orang.
Kebimbanganmu
Telah memenjarakan jiwamu yang bebas
Kemerdekaanmu telah diinjak
Dikoyak,
Dicabik,
Memaksamu terpuruk
Bagaikan budak
Yang menari menurut musik orang lain
Bagaikan tetesan air di atas daun keladi
Berbilang waktu
Dia bergoyang tanpa memberi arti
Kebimbangan menutupi mata batin
Karena kegelapan yang pengap
Tanpa sedikitpun menghirup cahaya
Gemuruh kekuatan darimu lindap
Karena kebodohanmu memandang dunia
Dengan jiwamu yang lemah.
Jika kebimbngan membelenggumu
Tepis dan campakkan
Karena engkau bukan budak waktu yang tiada menentu.
Ikat erat-erat tali keyakinanmu
Gelorakan keberanianmu
Karena engkau adalah dirimu sendiri
Mutiara berbinar yang terselubung sampah keraguan.
2. DUKA CITA
Berlindunglah kamu
Dari segala bentuk dukacita yang berkepanjangan.
Meratapi dan menghabiskan waktu
Dalam ketermanguan tak berujung.
Kesedihan adalah kain selimut yang menutupi keceriaanmu,
Membuatmu terlelap dalam khayal,
Dan menjebakmu
Dengan dialog batin
Yang menambah batinmu semakin nyeri.
Bila duka cita memenjarakan dirimu,
Usirlah dia
Sambil memasuki pintu air mata
Yang ratapannya meneteskan duka melebihi kesedihanmu,
Hibur dan besarkan hatinya
Sehingga kesedihanmu hilang
Karena dukacita mereka yang kau pupuskan.
Bila selendangmu telah kau basahkan
Dengan air dukacita yang mengucur
Dari kelopak mata orang ditimpa lara,
Masukilah gelora debu dunia
Yang menantangmu
Dengan gelak dan tawa.
Kesedihan bukanlah dosa,
Tetapi hikmah
Yang akan membuatmu menjulang.
Tetapi,
Akan menjadi dosa
Ketika engkau menebarkan benih-benihnya,
Memelihara dan membanggakannya.
Bila engkau menanam sedih,
Hanya dukacita dan kesengsaraan
Yang akan kau tuai.
Bila kau tebarkan benih keceriaan penuh harap,
Niscaya kebahagiaan sedang menantikan jari-jemarimu untuk memetiknya.
3. Perasaan Terhina
Dirimu merasa terhina
karena dagumu berat untuk tengadah,
jiwamu kerdil,
nyalimu kecil.
Penilaian atas dirimu sendiri,
itulah yang dihitung orang.
Kau terhina
karena engkau sendiri yang menghinakan dirimu.
Engkau adalah butiran pasir berserakan
dan berhamburanmenjadi debu
walau angin mengusapmu lembut.
Bila engkau batu padas yang kukuh,
sang angin lelah berbelok arah.
Maka,
berlindunglah kepada Ilahi
karena jiwa terhina
dan menghinakan adalah
ulat-ulat beracun yang merontokan dedaunan.
4. Kemalasan
Tiada kemalasan
kecuali bila kau manjakan
atau membanggakan kebodohanmu sendiri.
Berlindunglah kepada Ilahi
dari perangkap kemalasan
yang menjadi kelambu
orang resah gelisah
yang menebarkan berbagai ranjau maut diantara rerumputan.
Kemalasan adalah pisau yang kau tebarkan
dan tumbuh menjadi pedang kelewang
yang akan menebas tiang kemuliaan.
Ketika engkau terlena dengan impian,
Merajut khayalan
Didekap rasa puas jiwa pecundang,
Ketahuilah ..
Berapa banyak orang yang meneteskan keringat dan air matanya
Untuk meraih puncak-puncak hidup yang cemerlang.
Ketika engkau menyembunyikan dirimu
Dibalik bantal dan selimut kemalasan,
Berapa banyak orang
Yang melemparkan segala rayuan kebodohan
Untuk menerima piala penghargaan.
Lantas,
Buah seperti apa…
Yang kau harapkan dari kemalasan yang kau taburkan?
Kecuali penyesalan,
air mata,
Dan kesempatan gemilang yang terbuang!
5. Kebakhilan
Kebakhilan adalah pintu yang terkunci
Sehingga jiwamu semakin kuyu layu
Karena tak mampu menerima cahaya mentari.
Kebakhilan adalah
Sikap kikir-pelit yang membelit-belit urat kedermawanan
Dan menempatkan dirimu
Menjadi bintang yang tersembunyi dibalik awan gemawan,
tidak menjadi panduan para kafilah,
tidak mempesonakan jiwa para pujangga.
Keberadaanmu dilangit sia-sia dalam kesendirian.
Berlindunglah kepada Ilahi Yang dermawan
Dari bujukan sang bakhil yang menyesatkan.
Kebakhilan adalah bentuk rendah diri
Dan keraguan menatap kebersamaan.
Engkau akan terpelanting dari kumpulan saudaramu
Dan tidak memperoleh apapun kecuali kesepian.
6. Jiwa Pengecut atau Rasa Takut
Lihatlah …
Tapak perjalanan orang yang telah berlalu dari pandanganmu.
Tentang hilangnya kisah peradaban bangsa
Dan keindahan ukiran serta pematungnya.
Bangunan istana menjulang tinggal reruntuhan
Dan kebesaran mereka lindap tinggal kenangan
Karena jiwa yang pengecut.
Jiwa pengecut adalah jiwa para budak setia
Yang kakinya dibelenggu
Dengan rantai yang terbuat dari benang halus yang rapuh.
Tetapi, Jiwa pengecut membuatnya lemah,
Benang pengikat yang membelenggunya
Dianggapnya rantai baja yang kukuh.
Berlindunglah kepada Ilahi yang membebaskan manusia
dari penjara jiwa pengecut.
Bila kau ragu dan takut,
Tengoklah kelepak burung mengejar mentari
Yang meninggalkan anaknya disangkar
Dan menjelang kelam hari dia kembali
Menghibur anak-anaknya dengan serpihan biji-bijian.
Ketahuilah..
Orang-orang pengecut menggelepar di peraduannya
Karena
Takut mentari akan segera menampakan dirinya di remang fajar.
Mereka lebih senang menjadi pembual
Yang menceritakan impiannya
Kepada bocah-bocah ingusan.
Sedang diluar peraduannya,
Anak-anak dewasa pemberani telah tumbuh perkasa
Yang siap untuk menyeret para pengecut dari balik kelambunya.
7. Terbelit Utang
Kesengsaraan yang paling nista
Adalah terbelitnya seseorang karena utang.
Harga dirinya digerogoti,
Dan ketika dia tak mau membayarnya,
Dia terusir dari singgasananya dengan hanya membawa rasa pedih.
Kesukaran hidup karena belitan utang
bagaikan menempuh jalan yang
Menyibak semak belukar yang penuh duri,
Melintasi hutan dengan lelah
Dan meninggalkan bekas luka yang perih.
Berlindunglah kepada Ilahi
Dari utang betapapun jumlahnya sedikit.
Karena dia akan melilitmu bagaikan ular sanca
Yang menekan perlahan, tetapi mematikan.
Belitan utang harta memeras seluruh waktumu yang berharga
dan engkau tak mampu menikmati harumnya bunga-bunga.
Jiwa orang yang terutang telah tergadai
dan menjadi budak para majikannya.
Harga diri orang yang berutang adalah
Debu-debu yang mudah beterbangan karena sepoi angin sekalipun.
Dan,
Sang Musthafa putra fajar yang abadi namanya
memberi satu pusaka doa,
seraya bersabda,
“Baca dan renungkanlah doa harapan agar kamu mau berlindung kepada-Nya dari delapan kesengsaraan yang menyiksa manusia ! ”
KETIKA MENGHADAPI KESEDIHAN, KELEMAHAN,
KEMALASAN, TAKUT, KIKIR, BANYAK HUTANG DAN PENINDASAN

allahumma inni a’uudzu bika minal hammi wal haz ani wa a’uudzu bika minal ‘ajzi wal kasali wa a’uudzu bika minal jubni wal bukhli wa a’ uudzu bika min ghalabatiddaini wa qahrirrijaal.
“Ya allah, aku berlindung pada-Mu dari kemurungan dan kesusahan, aku berlindung pada-Mu dari kemalasan dan perasaan terhina, aku berlindung pada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, aku berlindung pada-Mu dari tekanan utang dan paksaan orang lain”.