Raja Presentasi : Penyedia Power Point Presentasi Kelas Dunia

Rajapresentasi.com, sebuah situs yang menyediakan powerpoint presentation slide bermutu tinggi dalam beragam tema, baik dalam bidang management skills, leadership, manajemen pemasaran, strategi dan manajemen SDM. bisa di klik dibawah ini

rajapresentasi.com

Apakah Anda seorang manajer, dosen, entrepreneur, instruktur
pelatihan, karyawan, mahasiswa, ataupun praktisi bisnis lainnya,
rajapresentasi.com menyediakan solusi materi presentasi powerpoint yang powerful dan siap pakai (ready to use).

Judul-judul materi presentasi kami kelompokkan dalam tiga seri/paket, yakni seri manajemen pemasaran/strategi, seri management skills, dan seri manajemen SDM. Silakan browse judul materi presentasi yang Anda butuhkan dibawah ini :

SERI MANAJEMEN PEMASARAN/STRATEGI
1. Blue Ocean Strategy
2. Managing Brand Equity
3. Essentials of Marketing Management
4. Managing Innovation Strategy
5. Managing Customer Service
6. Developing Marketing Plan
7. Marketing Strategy
8. New Product Development Strategy
9. Strategic Management
10. Strategy Execution Skills

SERI MANAGEMENT SKILLS
1. Change Management
2. Coaching for Optimal Performance
3. Productive Communication Skills
4. Creative Thinking Skills
5. Emotional Intelligence
6. High Performance Leadership
7. Managing Customer Service
8. Presentation Skills for Managers
9. Implementing Six Sigma
10. Becoming a Successful Entrepreneur

SERI MANAJEMEN SDM
1. Balanced Scorecard
2. Competency-based HR Management
3. Designing Career Development Programs
4. Diagnosing Organizational Effectiveness
5. Good to Great
6. Principles of HR Management
7. Developing HR Scorecard
8. Measuring ROI of Training
9. Training Need Analysis
10. Coaching for Optimal Performance

SEVEN DIFFICULTY OF LIFE

1. RASA BIMBANG

Berlindunglah kamu dari kebimbangan

Sikap jiwa tak menentu

Bagaikan asap yang dipermainkan angin

Hanya berdesah halus

Tetapi membuatmu menari-nari

Berlenggak lenggok

Semakin tipis wujudmu

Kemudian hilang

Tanpa diperhitungkan orang.

Kebimbanganmu

Telah memenjarakan jiwamu yang bebas

Kemerdekaanmu telah diinjak

Dikoyak,

Dicabik,

Memaksamu terpuruk

Bagaikan budak

Yang menari menurut musik orang lain

Bagaikan tetesan air di atas daun keladi

Berbilang waktu

Dia bergoyang tanpa memberi arti

Kebimbangan menutupi mata batin

Karena kegelapan yang pengap

Tanpa sedikitpun menghirup cahaya

Gemuruh kekuatan darimu lindap

Karena kebodohanmu memandang dunia

Dengan jiwamu yang lemah.

Jika kebimbngan membelenggumu

Tepis dan campakkan

Karena engkau bukan budak waktu yang tiada menentu.

Ikat erat-erat tali keyakinanmu

Gelorakan keberanianmu

Karena engkau adalah dirimu sendiri

Mutiara berbinar yang terselubung sampah keraguan.

2. DUKA CITA

Berlindunglah kamu

Dari segala bentuk dukacita yang berkepanjangan.

Meratapi dan menghabiskan waktu

Dalam ketermanguan tak berujung.

Kesedihan adalah kain selimut yang menutupi keceriaanmu,

Membuatmu terlelap dalam khayal,

Dan menjebakmu

Dengan dialog batin

Yang menambah batinmu semakin nyeri.

Bila duka cita memenjarakan dirimu,

Usirlah dia

Sambil memasuki pintu air mata

Yang ratapannya meneteskan duka melebihi kesedihanmu,

Hibur dan besarkan hatinya

Sehingga kesedihanmu hilang

Karena dukacita mereka yang kau pupuskan.

Bila selendangmu telah kau basahkan

Dengan air dukacita yang mengucur

Dari kelopak mata orang ditimpa lara,

Masukilah gelora debu dunia

Yang menantangmu

Dengan gelak dan tawa.

Kesedihan bukanlah dosa,

Tetapi hikmah

Yang akan membuatmu menjulang.

Tetapi,

Akan menjadi dosa

Ketika engkau menebarkan benih-benihnya,

Memelihara dan membanggakannya.

Bila engkau menanam sedih,

Hanya dukacita dan kesengsaraan

Yang akan kau tuai.

Bila kau tebarkan benih keceriaan penuh harap,

Niscaya kebahagiaan sedang menantikan jari-jemarimu untuk memetiknya.

3. Perasaan Terhina

Dirimu merasa terhina

karena dagumu berat untuk tengadah,

jiwamu kerdil,

nyalimu kecil.

Penilaian atas dirimu sendiri,

itulah yang dihitung orang.

Kau terhina

karena engkau sendiri yang menghinakan dirimu.

Engkau adalah butiran pasir berserakan

dan berhamburanmenjadi debu

walau angin mengusapmu lembut.

Bila engkau batu padas yang kukuh,

sang angin lelah berbelok arah.

Maka,

berlindunglah kepada Ilahi

karena jiwa terhina

dan menghinakan adalah

ulat-ulat beracun yang merontokan dedaunan.

4. Kemalasan
Tiada kemalasan

kecuali bila kau manjakan

atau membanggakan kebodohanmu sendiri.

Berlindunglah kepada Ilahi

dari perangkap kemalasan

yang menjadi kelambu

orang resah gelisah

yang menebarkan berbagai ranjau maut diantara rerumputan.

Kemalasan adalah pisau yang kau tebarkan

dan tumbuh menjadi pedang kelewang

yang akan menebas tiang kemuliaan.

Ketika engkau terlena dengan impian,

Merajut khayalan

Didekap rasa puas jiwa pecundang,

Ketahuilah ..

Berapa banyak orang yang meneteskan keringat dan air matanya

Untuk meraih puncak-puncak hidup yang cemerlang.

Ketika engkau menyembunyikan dirimu

Dibalik bantal dan selimut kemalasan,

Berapa banyak orang

Yang melemparkan segala rayuan kebodohan

Untuk menerima piala penghargaan.

Lantas,

Buah seperti apa…

Yang kau harapkan dari kemalasan yang kau taburkan?

Kecuali penyesalan,

air mata,

Dan kesempatan gemilang yang terbuang!

5. Kebakhilan

Kebakhilan adalah pintu yang terkunci

Sehingga jiwamu semakin kuyu layu

Karena tak mampu menerima cahaya mentari.

Kebakhilan adalah

Sikap kikir-pelit yang membelit-belit urat kedermawanan

Dan menempatkan dirimu

Menjadi bintang yang tersembunyi dibalik awan gemawan,

tidak menjadi panduan para kafilah,

tidak mempesonakan jiwa para pujangga.

Keberadaanmu dilangit sia-sia dalam kesendirian.

Berlindunglah kepada Ilahi Yang dermawan

Dari bujukan sang bakhil yang menyesatkan.

Kebakhilan adalah bentuk rendah diri

Dan keraguan menatap kebersamaan.

Engkau akan terpelanting dari kumpulan saudaramu

Dan tidak memperoleh apapun kecuali kesepian.

6. Jiwa Pengecut atau Rasa Takut

Lihatlah …

Tapak perjalanan orang yang telah berlalu dari pandanganmu.

Tentang hilangnya kisah peradaban bangsa

Dan keindahan ukiran serta pematungnya.

Bangunan istana menjulang tinggal reruntuhan

Dan kebesaran mereka lindap tinggal kenangan

Karena jiwa yang pengecut.

Jiwa pengecut adalah jiwa para budak setia

Yang kakinya dibelenggu

Dengan rantai yang terbuat dari benang halus yang rapuh.

Tetapi, Jiwa pengecut membuatnya lemah,

Benang pengikat yang membelenggunya

Dianggapnya rantai baja yang kukuh.

Berlindunglah kepada Ilahi yang membebaskan manusia

dari penjara jiwa pengecut.

Bila kau ragu dan takut,

Tengoklah kelepak burung mengejar mentari

Yang meninggalkan anaknya disangkar

Dan menjelang kelam hari dia kembali

Menghibur anak-anaknya dengan serpihan biji-bijian.

Ketahuilah..

Orang-orang pengecut menggelepar di peraduannya

Karena

Takut mentari akan segera menampakan dirinya di remang fajar.

Mereka lebih senang menjadi pembual

Yang menceritakan impiannya

Kepada bocah-bocah ingusan.

Sedang diluar peraduannya,

Anak-anak dewasa pemberani telah tumbuh perkasa

Yang siap untuk menyeret para pengecut dari balik kelambunya.

7. Terbelit Utang

Kesengsaraan yang paling nista

Adalah terbelitnya seseorang karena utang.

Harga dirinya digerogoti,

Dan ketika dia tak mau membayarnya,

Dia terusir dari singgasananya dengan hanya membawa rasa pedih.

Kesukaran hidup karena belitan utang

bagaikan menempuh jalan yang

Menyibak semak belukar yang penuh duri,

Melintasi hutan dengan lelah

Dan meninggalkan bekas luka yang perih.

Berlindunglah kepada Ilahi

Dari utang betapapun jumlahnya sedikit.

Karena dia akan melilitmu bagaikan ular sanca

Yang menekan perlahan, tetapi mematikan.

Belitan utang harta memeras seluruh waktumu yang berharga

dan engkau tak mampu menikmati harumnya bunga-bunga.

Jiwa orang yang terutang telah tergadai

dan menjadi budak para majikannya.

Harga diri orang yang berutang adalah

Debu-debu yang mudah beterbangan karena sepoi angin sekalipun.

Dan,

Sang Musthafa putra fajar yang abadi namanya

memberi satu pusaka doa,

seraya bersabda,

“Baca dan renungkanlah doa harapan agar kamu mau berlindung kepada-Nya dari delapan kesengsaraan yang menyiksa manusia ! ”

KETIKA MENGHADAPI KESEDIHAN, KELEMAHAN,

KEMALASAN, TAKUT, KIKIR, BANYAK HUTANG DAN PENINDASAN

allahumma inni a’uudzu bika minal hammi wal haz ani wa a’uudzu bika minal ‘ajzi wal kasali wa a’uudzu bika minal jubni wal bukhli wa a’ uudzu bika min ghalabatiddaini wa qahrirrijaal.

“Ya allah, aku berlindung pada-Mu dari kemurungan dan kesusahan, aku berlindung pada-Mu dari kemalasan dan perasaan terhina, aku berlindung pada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, aku berlindung pada-Mu dari tekanan utang dan paksaan orang lain”.

SMART Goal Setting

I encourage you to pick up a pen and a piece of paper and jot down the goals you want to reach. Look at each goal and evaluate it. Make any changes necessary to ensure it meets the criteria for a SMART goals:

S = Specific
M = Measurable
A = Attainable
R = Realistic
T = Timely

Specific

Goals should be straightforward and emphasize what you want to happen. Specifics help us to focus our efforts and clearly define what we are going to do.

Specific is the What, Why, and How of the SMART model.

WHAT are you going to do? Use action words such as direct, organize, coordinate, lead, develop, plan, build etc.

WHY is this important to do at this time? What do you want to ultimately accomplish?

HOW are you going to do it? (By…)

Ensure the goals you set is very specific, clear and easy. Instead of setting a goal to lose weight or be healthier, set a specific goal to lose 2cm off your waistline or to walk 5 miles at an aerobically challenging pace.

Measurable

If you can’t measure it, you can’t manage it. In the broadest sense, the whole goal statement is a measure for the project; if the goal is accomplished, the is a success. However, there are usually several short-term or small measurements that can be built into the goal.

Choose a goal with measurable progress, so you can see the change occur. How will you see when you reach your goal? Be specific! “I want to read 3 chapter books of 100 pages on my own before my birthday” shows the specific target to be measure. “I want to be a good reader” is not as measurable.

Establish concrete criteria for measuring progress toward the attainment of each goal you set. When you measure your progress, you stay on track, reach your target dates, and experience the exhilaration of achievement that spurs you on to continued effort required to reach your goals.

Attainable

When you identify goals that are most important to you, you begin to figure out ways you can make them come true. You develop that attitudes, abilities, skills, and financial capacity to reach them. Your begin seeing previously overlooked opportunities to bring yourself closer to the achievement of your goals.

Goals you set which are too far out of your reach, you probably won’t commit to doing. Although you may start with the best of intentions, the knowledge that it’s too much for you means your subconscious will keep reminding you of this fact and will stop you from even giving it your best.

A goal needs to stretch you slightly so you feel you can do it and it will need a real commitment from you. For instance, if you aim to lose 20lbs in one week, we all know that isn’t achievable. But setting a goal to loose 1lb and when you’ve achieved that, aiming to lose a further 1lb, will keep it achievable for you.

The feeling of success which this brings helps you to remain motivated.

Realistic

This is not a synonym for “easy.” Realistic, in this case, means “do-able.” It means that the learning curve is not a vertical slope; that the skills needed to do the work are available; that the project fits with the overall strategy and goals of the organization. A realistic project may push the skills and knowledge of the people working on it but it shouldn’t break them.

Devise a plan or a way of getting there which makes the goal realistic. The goal needs to be realistic for you and where you are at the moment. A goal of never again eating sweets, cakes, crisps and chocolate may not be realistic for someone who really enjoys these foods.

For instance, it may be more realistic to set a goal of eating a piece of fruit each day instead of one sweet item. You can then choose to work towards reducing the amount of sweet products gradually as and when this feels realistic for you.

Be sure to set goals that you can attain with some effort! Too difficult and you set the stage for failure, but too low sends the message that you aren’t very capable. Set the bar high enough for a satisfying achievement!

Timely

Set a timeframe for the goal: for next week, in three months, by fifth grade. Putting an end point on your goal gives you a clear target to work towards.

If you don’t set a time, the commitment is too vague. It tends not to happen because you feel you can start at any time. Without a time limit, there’s no urgency to start taking action now.

Time must be measurable, attainable and realistic.

Everyone will benefit from goals and objectives if they are SMART. SMART, is the instrument to apply in setting your goals and objectives.

taken from: http://www.goal-setting-guide.com/smart-goals.html

Go Home

Alhamdulillah, setelah beberapa hari/minggu ini menjalani DL (dinas luar) akhirnya selesai juga n balik ke hero city lagi. Rasanya udah kangen berat sama kasurku (walaupun kasurku itu terlalu lebar untuk di tempati seorang diri).

Secara keseluruhan DL kemaren sangat menyenangkan, maklum mantan penjaga pantai sidem. Jadi baru tahu yang namanya UP Muara Karang, Muara Tawar, UPHB, UB BANG or Kantor Perwakilan plus UP Glodok :D. yang belum kesampaian makan di Sky Dinning, Semanggi.. Next time lah.

Alhamdulillah, walau awalnya aku merasa sial namun sekarang ku merasa beruntung sekali pernah merasakan kehidupan di unit yang kecil, sesekali merasakan suasana di Kantor Sektor, dan sekarang di Kantor Pusat. Semuanya menambah mozaik kehidupanku.

Bener apa yang di katakan Salim A Fillah (semoga Allah memberkahinya) kalo “Hikmah sejati kadang tak muncul di awal pagi“.

I Agree with your statement my brother :)

Morinda Citrifolia

Buah pace ato mengkudu kalo inget buah ini aku pengen senyum senyum terus ketawa. Pasalnya aku memang sudah akrab dengan buah ini. Apalagi 4 tahun aku pernah menghirup udara  kabupaten pacitan, yang notabene nama kotanya diambil dari nama buah Pace.

Waktu aku kuliah semester 4 di FE Unair  Pace sedang booming-boomingnya Kandungan buahnya ternyata bisa mengobati banyak penyakit: kanker, jantung, dan lain-lain. Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mereguk untung dengan berjualan syrup pace.  Bersama konco2 plek  qta menelusuri kampus. sasaranya adalah dosen-dosen. bahkan sampai luar kampus seperti di ITS. Banyak dosen-dosen kampus yang beli entah karena termakan rayuan maut, product knowledge yg luar biasa, sebel karena di kejar2 ato karena belas kasihan (tapi banyak yg karena belas kasihan :D). Banyak pengalaman seru seperti ada dosen yang bilang “mas mas, syrup pace mu iki ambune koyo kelek” (Hmm pace di salahin, padahal kalo tu dosen merhatiin lbh detail, waktu itu aku lg berkeringat hehehe). Ada juga kepala jurusan yg ogah beli tapi merekomendasiin ke staf2nya, akhirnya staf2nya pada beli semua. ada juga yag Sadis, masak beli 2 botol di tawar 18 ribu, padahal 1 botolnya 15 ribu (semoga Tuhan membalas smua yang terjadiiii….. kepadaku suatu saat nanti :D). Ya begitulah banyak yang sempat merasakan manfaat buah pace ato mengkudu

Tapi tahukah sebelumnya buah ini nyaris tak punya kebanggaan sedikit pun. Jangankan manusia, kelelawar pun tak sudi mencicipi. Selain baunya apek, rasanya pahit. Pahit sekali! Belum lagi dengan bentuk buah yang aneh. Bulatnya tidak rata, dan kulit buah ditumbuhi bintik-bintik hitam. Warnanya juga tidak menarik. Mudanya hijau, tuanya pucat kekuning-kuningan. Berbeda jauh dengan apel, jeruk, mangga, dan tomat. Selain kulitnya mulus, warnanya begitu menarik: hijau segar, merah, dan orange.

Sedemikian tidak menariknya pace, orang-orang membiarkan begitu saja buah-buah pace yang sudah masak. Pace tidak pernah dianggap ketika muda, tua; dan di saat masak pun dibiarkan jatuh dan berhamburan di tanah; membusuk, dan kemudian mengering. Pace sudah dianggap seperti sampah.

Kalau saja pace bisa bicara, mungkin ia akan bilang, “Andai aku seindah apel merah. Andai aku seharum jeruk. Andai aku semolek tomat!” Dan seterusnya.

Perubahan besar pun terjadi di tahun sembilan delapan. Seorang pakar tumbuhan menemukan sesuatu yang lain dari pace. Kandungan buahnya ternyata bisa mengobati banyak penyakit: kanker, jantung, tulang, pernafasan, dan lain-lain. Orang pun memberi nama baru buat pace, morinda citrifolia.

Sejak itu, pace menjadi pusat perhatian. Ia tidak lagi diacuhkan, justru menjadi buruan orang sedunia. Kini, tidak ada lagi pace masak yang dibiarkan jatuh dan berhamburan. Ia langsung diolah dengan mesin canggih higienis, dan masuk golongan obat mahal. Kemuliaan pace sudah jauh di atas apel, jeruk, apalagi tomat.

Seperti Pace, jalan hidup kadang punya rutenya sendiri. Tidak biasa, lompat-lompat, curam dan terjal. Seperti itulah ketika realitas kehidupan memperlihatkan detil-detilnya yang rumit.

Di antara yang rumit itu, ada kebingungan menemukan tutup peti potensi diri. Semua menjadi seperti misteri. Ada yang mulai mencari-cari, membongkar peti; bahkan ada yang cuma menebak-nebak sambil tetap berpangku tangan. Dalam keputusasaan, orang pun mengatakan, “Ah, saya memang tidak punya potensi.” Seribu satu kalimat pengandaian pun mengalir: andai saya…andai saya…andai saya, dan seterusnya.

Kenapa tidak berusaha sabar dengan terus mencari-cari pintu peti potensi. Kenapa tidak mencari alat agar peti bisa terbongkar. Kenapa cuma bisa menebak kalau peti potensi tak berisi. Kenapa cuma diam dan menyesali diri. Padahal boleh jadi, kita bisa seperti pace yang punya potensi tinggi. Sayangnya belum tergali.

Sayap Yang Tak Pernah Patah

Mari kita bicara tentang orang-orang patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Atau kisah Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka ‘majnun’, lalu mati. Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas.

Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu di sana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung:

O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati.

Mari kita ikut berbela sungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.

Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai di sana. “Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain,” kata Rumi, “sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain.” Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.

Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejewantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu kita pada posisi kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab di sini kita justru melakukan pekerjaan besar dan agung: mencintai.

Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang terjadi sesungguhnya hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya bertanya: “apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.

Jadi, kita hanyalah patah atau hancur karena kita lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita.

Taken from: Serial Cinta “Anis Matta”

Pagi dan Gairah.. (^_^)

Pagi ini aku bangun pagi dengan malas-malasan, maklum hari ini libur. Sebenernya pengen sih pulang ke surabaya tapi kalo cuma satu hari percuma juga, paling-paling capheck. pulangnya kena ujhan, bechek, n gak ada ojheck (ini mah sih adek :D). Entah karena bangun dengan perasaan malas itu, aku jadi agak lamban untuk beraktivitas. Rasanya pengen banget balik meniduri kasur dan mengeloni gulingku yang masih perawan itu (baru beli lg baru maksudnya). Tapi enggak lah, nanti gak barokah.
Aku jadi inget ama sebuah nasehat, kalo pagi hari adalah gairah, simbol kehendak, juga kesegaran di awal waktunya. bagi orang-orang beriman, pagi adalah inspirasi cinta. Begitulah Rasulullah mengajarkannya. Betapa ia membuktikan cintanya untuk putrinya Fatimah, di waktu pagi yang penuh berkah. Cinta Rasulullah untuk pagi adalah cintanya atas ampunan. Maka seperti diriwayatkan Imam Tirmizi, adalah Rasulullah selama enam bulan, setiap pagi yang masi gelap, selalu berjalan di depan rumah tinggal Fatimah. Ia ketuk pintunya setiap kali hendak menunaikan shalat subuh. Rasulullah senantiasa memanggil “Shalat..shalat, wahai keluargaku sesungguhnya Allah hendak mengampuni dan membersihkan dosa kalian sebersih bersihnya. Maka pagi tak sekedar sepotong waktu, tapi juga dasar filosofi hidup: filosofi bergegas. Pagi selalu datang dalam sekejap. Ia hanya memberi waktu dan kesempatan pada detik-detik awalnya. orang-orang harus berlomba, sedikit saja terlewatkan sesungguhnya telah hilang sebuah kesempatan.

Tulungagung 1

Tulungagung, adalah sebuah kabupaten di Jawa Timur, Indonesia. Dibatasi oleh Kabupaten Blitar di sebelah timur, Kabupaten Trenggalek disebelah barat, Kabupaten Kediri di sebelah utara dan Samudra Hindia di sebelah selatan. Secara administratif, Kabupaten Tulungagung terbagi dalam 19 kecamatan, 257 desa, dan 14 kelurahan. Kecamatan tersebut adalah Bandung, Besuki, Boyolangu, Campurdarat, Gondang, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pagerwojo, Pakel, Pucanglaban, Rejotangan, Sendang, Sumbergempol, Tanggung Gunung, Tulungagung.

Bagian barat laut Kabupaten Tulungagung merupakan daerah pegunungan yang merupakan bagian dari pegunungan Wilis-Liman-Limas. Bagian tengah adalah dataran rendah; dan bagian selatan adalah pegunungan yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Kidul. Tulungagung adalah salah satu penghasil marmer terbesar di Indonesia, yakni di daerah campurdarat & besole. Pantai Popoh, merupakan obyek wisata pantai di Laut Selatan yang cukup terkenal.

Dahulu kala Tulungagung terkenal dengan daerah rawa-rawa, yang lebih dikenal dengan nama Bonorowo/ngrowo (rowo=rawa). Bekas rawa-rawa tersebut kini menjadi wilayah kecamatan Campurdarat, Boyolangu, Pakel, Besuki, Bandung, Gondang. Dalam prasasti Lawadan,terletak di sekitar Desa Wates Kecamatan Campurdarat, yang dikeluarkan pada Jum’at Pahing 18 Nopember 1205 disebutkan bahwa Raja Daha yang terakhir yaitu Sri Kretajaya merasa berkenan atas kesetiaan warga Thani Lawadan terhadap raja ketika terjadi serangan musuh dari sebelah timur Daha. Tanggal tersebut kemudian digunakan sebagai hari jadi tulungagung. Pada Prasasti Lawadan dijelaskan juga tentang anugrah Raja Kertajaya berupa pembebasan dari berbagai pungutan pajak dan penerimaan berbagai hak istimewa kepada DWAN RI LAWADAN TKEN WISAYA, atau dikenal dalam cerita sebagai DANDANG GENDHIS. Di jaman majapahit, Bonorowo dipimpin oleh seorang Adipati yang bernama adipati kalang. Adipati kalang tidak mau tunduk pada kekuasaan majapahit, yang berujung pada invasi mojopahit ke bonorowo. Adipati kalang dan pengikutnya yang berjuang dengan gagah berani akhirnya tewas dalam pertempuran didaerah yang sekarang disebut kalangbret dikecamatan Kauman.

Di Jaman penjajahan jepang, tulungagung dijadikan base pertahanan jepang untuk menangkal serangan sekutu dari australia serta sebagai benteng pertahanan terakhir untuk menghadapi serangan dari arah utara. Pada masa itu ratusan ribu romusa dikerahkan untuk mengeringkan rawa-rawa tulungagung membuangnya ke pantai selatan dengan membuat terowongan air menembus dasar gunung Tanggul, salah satu gunung dari rangkaian pegunungan yang melindungi Tulungagung dari dasyatnya ombak pantai selatan, yang terkenal dengan sebutan terowongan ni yama. Terowongan tersebut merupakan cikal bakal berdirnya PLTA Tulungagung, tempat aku menjalankankan fitrahku sebagai manusia (Kerjo).

Tulungagung sekarang terkenal dengan kerajinan Marmer dan onyx, di Kecamatan Campurdarat, Batik di Tulungagung, Majan dan Kauman. Tenun Perlengkapan Militer dengan standart NATO di Kecamatan Ngunut. Konveksi dan Bordir Garmen, busana muslim, sprei, sarung bantal, rukuh dsb. Ikan Hias yang memenuhi pasar nasional dan eksport. ikan konsumsi ( Perikanan darat dan laut ). Makanan khas tulunguagung antara lain Lodho Ayam, Nasi Pecel, sompil, jajanan seperti kacang Shanghai, giti, jongkong, ireng-ireng, sredeg, cenil, plenggong. Minuman khas seperti kopi cethe, Wedang jahe sere, dawet caon, rujak uyub, beras kencur. Tulungagung adalah base camp ketoprak “Siswo Budoyo”, kesenian kentrung, jaranan, dan reog tulungagung.

Anda Spesial

Suatu hari seorang penceramah terkenal membuka seminarnya dengan cara unik. Sambil memegang uang pecahan Rp. 100.000,-, ia bertanya kepada hadirin, "Siapa yang mau uang ini?" Tampak banyak tangan diacungkan. Pertanda banyak minat. "Saya akan berikan ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini."

Ia berdiri mendekati hadirin. Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai berlipat-lipat. Lalu bertanya lagi, "Siapa yang masih mau uang ini?\" Jumlah tangan yang teracung tak berkurang. "Baiklah," jawabnya, "apa jadinya bila saya melakukan ini?" ujarnya sambil menjatuhkan uang itu ke lantai dan menginjak-injaknya dengan sepatunya. Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi.

"Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?" Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak. "Hadirin sekalian, Anda baru saja menghadapi sebuah pelajaran penting. Apa pun yang terjadi dengan uang ini, Anda masih berminat karena apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya. Biarpun lecek dan kotor, uang itu tetap bernilai Rp. 100.000,-." Dalam kehidupan ini kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita. Dalam kondisi seperti itu, kita merasa tak berharga, tak berarti. Padahal apa pun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda, terlebih di mata Tuhan. Jangan pernah lupa - Anda spesial.

MoMentuM

Setiap penggal waktu adalah momentum. Setiap rentang masa adalah kesempatan. Masing-masing memiliki kekhasan tersendiri. Termasuk pergantian tahun yang baru saja berlalu. Biasanya pada pergantian tahun-tahun sebelumnya aku manfaatkan untuk mengevaluasi kelemahan-kelemahanku dan kemudian menambalnya. Tapi untuk tahun ini perkecualian, aku ingin fokus pada kekuatan-kekuatan yang aku miliki dan semakin mempertajamnya. Paling tidak aku harus punya kompetensi dalam satu bidang. Nggak seperti sekarang, ngga jelas dan serba nanggung. Berbagai ilmu pernah kupelajari tapi hanya sampai taraf bisa bukan mahir.

Berbicara mengenai momentum rasanya kok bodoh banget kalo aku harus nunggu tahun baru, ulang tahun, atau ramadhan. Alangkah miskinnya kesempatan untuk memperbaiki diri. Padahal berjuta momentum terhampar luas dihadapan kita semua. Pagi yang menyapa dalam hangatnya adalah momentum. Saat memulai hari baru. Adakah hari ini akan diisi dengan kebajikan, ataukah dengan kekerdilan? Siang yang terik adalah momentum. Saat tepat untuk mendinginkan hati melalui termin pertama ibadah siang. Ada rehat untuk mengisi ulang spirit. Saat petang menjelang adalah momentum. Ketika kita mencoba mengakhiri penat. Bertanyalah kita pada jiwa, adakah hari ini telah berkarya. Malam yang sunyi adalah momentum, saat kita merunduk dalam diam. Bertanyalah kita pada batin yang jujur, apakah hari ini telah kita lewati tangga-tangga menuju kebaikan hidup.

Begitulah dalam kelebat lajunya yang sangat cepat, waktu dan hidup memberi kita momentum, bahkan pada detik-detiknya…. Setiap kali melewati sepotong waktu, serentang masa, itu adalah kesempatan yang bisa mengatarkan kita ke hamparan bahagia atau himpitan sengsara.